Belajar hidup bebas hutang

Hai, sebelumnya disclaimer dulu ya. Tulisan ini bukan untuk menyindir atau menyudutkan siapa-siapa, ini adalah cerita pengalaman saya yang ingin saya bagi. Mungkin bermanfaat untuk sebagian, bisa jadi tidak ~ apalagi di tengah pandemik seperti ini, ataupun jika sudah terkait keberlangsungan jiwa. Bagaimanapun, saya menghormati pilihan hidup setiap orang dalam menjalani hidupnya.

Kalau begitu, mari dimulai..

Oktober 2018 adalah bulan pertama saya hidup bebas hutang! Bulan sebelumnya adalah bulan terakhir saya membayar cicilan mobil saya. Sampai sekarang saya tidak punya hutang lagi baik itu cicilan atau yang lain, dan saya berkomitmen untuk debt-free alias bebas hutang. Saya pikir, ya kalau saya tidak mampu membeli sesuatu, ya tidak usah dibeli.

Dasarnya sederhana saja, saya ingin hidup bebas. Saya ingin membuat pilihan-pilihan dalam hidup saya yang berdasar pada freedom atau kebebasan, bukan karena sebuah beban atau keterpaksaan.

Alhamdulillah, sampai sekarang saya tidak pernah takut sama yang namanya rejeki, saya yakin Tuhan sudah mengatur rejeki kita sedemikian rupa asal kita terus ikhtiar, yaitu berusaha dan berdoa. Dan mungkin yang paling penting, punya faith atau keyakinan bahwa Tuhan selalu menjaga kita. (Oh satu lagi, jangan lupa untuk selalu menyisihkan bagi yang membutuhkan, misalnya dengan membayar kewajiban zakat bagi yang muslim maupun dengan berdonasi, atau infaq/sedekah.)

Singkat kata, my faith has never let me down. 

Saya mau cerita sedikit, bagaimana perspektif saya ini berkembang.

Pertama kali saya punya hutang yang lumayan besar sepertinya ketika saya memutuskan untuk mencicil mobil pertama kali tahun 2011 di awal-awal karir saya. Pada saat itu penghasilan saya memang jauh dari mumpuni untuk ditabung dan membeli mobil dengan cara membayar langsung.

Waktu itu saya berpikir, okelah saya harus belajar bertanggung jawab, biar punya motivasi untuk selalu bekerja keras… Dan memang, saya menjadi pekerja keras karena saya punya ketakutan tidak bisa membayar cicilan mobil..

Kemudian, saya ingat pertama kali saya punya kartu kredit kira-kira di tahun 2012 ya, awalnya untuk beli tiket pesawat supaya mudah karena pada saat itu option pembayaran belum se-fleksibel skarang.

Lama-lama saya gunakan kartu kredit untuk hal-hal lain seperti mencicil gym membership atau membeli sesuatu. Walaupun saya selalu membayar tepat waktu dan tidak pernah menunggak, namun tetap saja saya rasanya berhutang.

Seiring berjalannya waktu, saya sudah mulai biasa dengan “tekanan” hidup seperti itu sampai-sampai bebannya tidak terasa lagi. Tapi jujur, perasan saya tidak pernah enak dengan yang namanya “hutang”. Rasanya kok, kaki saya seperti ada yang mengikat, sulit melangkah dan membuat sebuah keputusan mengenai hidup saya menjadi hal yang sangat sulit. Napas menjadi berat, dan hidup rasanya sempit. Saya merasa tidak tenang.

I wish to live more freely, without fear..

Di saat yang sama beberapa tahun lalu mungkin sekitar tahun 2017 saya mulai belajar mengenai minimalism dan mindful living , mata saya semakin terbuka untuk melihat bahwasannya kebahagiaan bukanlah hanya berasal dari kepemilikan materi.

Ketika teman-teman ataupun orang tua saya mulai mendorong saya punya properti seperti rumah atau tanah dan mewujudkannya dengan cara mengambil pinjaman, kok saya tidak tertarik sama sekali.

Saya pikir, ah, sepertinya saya lebih baik hidup apa adanya sesuai yang saya bisa. Tidak punya properti atau investasi yang terlalu bagaimana juga tidak apa-apa.

Tapi ya, mungkin dibandingkan orang lain saya memang lebih beruntung. Pada saat saya menulis ini, orang tua saya masih memberikan saya atap untuk ditinggali. Tapi kalau boleh jujur, mungkin jika pun tidak demikian saya akan memilih tinggal di kos-an atau mengontrak karena saya akan tetap memilih untuk bebas dari hutang.

Namun demikian, di satu sisi, saya paham sekali terutama ketika kita sudah mulai berkeluarga ada sebuah keinginan besar menyediakan atap untuk tinggal keluarga.* 

Semakin lama, saya semakin meyakini bahwa pilihan hidup untuk bebas hutang seperti ini adalah yang terbaik untuk saya. Saya jauh lebih tenang, dan lebih menikmati hidup saya dalam setiap momennya. Setiap pilihan hidup saya buat berasal dari tempat yang jauh lebih baik,

from the place of freedom. 

Sampai detik ini saya selalu berusaha disiplin dalam menjaga pilihan hidup ini, yaitu bebas dari hutang. Saya membayar tagihan rutin bulanan dan kewajiban lain seperti zakat tepat waktu. Saya menghindari penggunaan kartu kredit kalau memang tidak dibutuhkan, bagaimanapun promo menggoda biasanya saya tetap akan memilih menggunakan cash atau paling tidak kartu debit. Saya hanya membeli barang-barang yang saya perlu dan mampu. Saya tetap menabung setiap bulan.

Saya berusaha hidup lebih sadar setiap harinya.

I am happy and free. 

Kaki saya ringan melangkah. Saya lebih tenang, jauh dari ketakutan. Apapun keputusan hidup yang saya buat tidak terasa berat, dan saya merasa bebas untuk melakukan hal-hal yang saya sukai dalam hidup ini. Saya ingat ketika pertama kali saya memutuskan untuk beristirahattahun lalu dan akhirnya awal tahun ini saya mulai kembali bekerja full-time, semua keputusan saya buat tanpa tekanan. Saya semakin mensyukuri hal-hal kecil dalam hidup.

Saya lebih menikmati hidup.

I hope this post serves you.

Inuk ☕


*Photos from Pexels

2 responses to “Belajar hidup bebas hutang”

  1. ganjar mutaqien Avatar

    keren Ibu Inuk ,makasih dah nulis ,alhmadulillah tulisan 2 Ibu Inuk sangat menginspirasi

    Like

  2. ….aseek…

    Like

Leave a comment

Stay connected and be the first to know!

Makes your inbox happy and read my fresh new article every week (plus, some personal stories inside)! 🍵

Processing…
Success! You're on the list.