Istirahat itu produktif

Beberapa waktu belakangan ini kok rasanya saya lebih “malas” dari biasanya? Memang beberapa waktu yang lalu sedang ada beberapa project yang jalan bersamaan, jadi lumayan sibuk. Jadi saat ini rasanya ingin lebih banyak istirahat, bobo, dan bekerja dengan santai. Tapi kok.. sulit rasanya untuk diam, dan tidak melakukan apa-apa. Akhirnya saya malah sibuk bersih-bersih rumah.. *eh

Tiba-tiba ada perasaan bersalah datang… loh kok?

Padahal saya tahu bahwa istirahat itu penting, namun rasanya seperti ada yang salah, kayaknya kok aneh begitu kalau terlalu banyak diam. Ada perasaan kalau “diam” itu tidak produktif, ataupun sama artinya dengan pemalas. Lebih jauh lagi, sepertinya ada perasaan kalau saya ini tidak berguna….

Apakah benar demikian? Darimana datangnya pemahaman ini?

Keyakinan lama

Disini saya belajar untuk mengenali diri lebih dekat lagi. Dalam proses self-coaching dan juga diskusi dengan coach saya, akhirnya saya memahami bahwa ada beberapa old belief system atau keyakinan lama (yaitu hal-hal yang saya percaya dan anggap benar) yang kurang mendukung, tertanam di bawah sadar saya seperti..

“productivity is everything”
“life is all about hard work”
“doing nothing is lazy, and those who are lazy are useless”

“hidup itu harus selalu produktif”
“hidup itu keras, dan kita harus selalu kerja keras “
“diam itu artinya pemalas, dan pemalas itu hidupnya tidak berguna”

Nah loh, dari mana datangnya ini semua? Kok ternyata banyak sekali pikiran-pikiran yang menghambat saya untuk mengambil waktu untuk berhenti sejenak.

Seperti bisa diduga, keyakinan ini muncul dari lingkungan keluarga dan maupun lingkungan dimana saya dibesarkan, dan juga dalam pendidikan. Inilah yang sekarang disebut hustle culture.

Saya tidak ingin menyalahkan orang tua saya, namun inilah kenyataannya. Bahwa saya tumbuh dalam lingkungan pejuang, dimana hidup selalu dilihat dalam perspektif bekerja. Bahwa kerja keraslah hal yang paling penting, dimana tanpa bekerja keras kita tidak bisa sukses dan bahagia.

Begitu juga misalnya dalam hal pendidikan, dari mulai sekolah diajarkan seperti itu. Saya juga dulu kuliah di bidang bisnis/manajeman, dimana produktifitas dan efisiensi adalah hal yang paling utama. Saya belajar bahwa setiap detik waktu harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.

Sebenarnya bukan berarti keyakinan tersebut salah, malah sebaliknya, keyakinan inilah yang membawa saya ke banyak momen terbaik dalam diri saya, khususnya kesuksesan dalam perjalanan karir saya. Etos kerja ini baik adanya, namun saya tidak melihat bagaimana efeknya dalam sisi lain kehidupan saya..

Ternyata keyakinan yang sama membuat saya juga menjadi stress dan burnout. Saya lupa bahwa tidak ada yang salah yang berdiam dan beristirahat.

Apakah kamu memiliki pengalaman yang sama atau mirip-mirip?

Akhirnya saya menyadari, bahwasanya diam atau istirahat bukan selalu berarti kemalasan, namun juga dapat berarti sebuah hal produktif. Bahwasanya kita sering lupa bahwa ketika kita memiliki istirahat yang cukup, kita malah akan jauh lebih produktif lagi pada saat kita bekerja. Dan yang lebih penting, saya ingin menikmati bekerja dengan penuh suka cita.

Afterall, we are human being, not human doing.

Menumbuhkan keyakinan baru

Jadi apa yang harus dilakukan? Yuk kita sama-sama upgrade belief system atau keyakinan kita ke yang lebih bermanfaat. Untuk saya pribadi, saya ingin upgrade menjadi..

“working is productive, so does resting”
“It’s okay to take a break at any time”

“I choose a balanced life”
“I don’t push myself too hard, I take actions from the place of alignment”

“bekerja itu produktif, istirahat juga produktif”
“Tidak apa-apa untuk ambil jeda, kapanpun akuu mau”
“Aku memilih hidup seimbang”
“Aku tidak memaksakan sesuatu, aku melakukan sesuatu dari hati”

Setelah saya upgrade keyakinan atau belief system ini, saya jauh lebih tenang. Saya tidak lagi dihantui perasaan bersalah kalau memilih untuk berdiam dan beristirahat. Saya sekarang jauh lebih produktif, dan terasa jauh dari berbagai stress yang tidak perlu.

Ternyata hidup tidak harus sesulit itu. Ternyata upgrade keyakinan kita bisa jadi sangat sederhana, dimana kita hanya perlu menyadari dan memutuskan saja.

Bagaimana dengan kamu?

Slow down to speed up. There’s a reason the fastest racing car drivers are taught, “Go slow to go smooth. Go smooth to go fast.”

Rich Litvin

Lots of love
Inuk ❤️


Leave a comment

Stay connected and be the first to know!

Makes your inbox happy and read my fresh new article every week (plus, some personal stories inside)! 🍵

Processing…
Success! You're on the list.