Oke, jadi saya sedang merasa agak-agak cemas sejak minggu lalu. Alasannya adalah karena minggu ini adalah awal semester baru yang berarti saya akan kembali mengajar di kelas! dan… saya akan mengajar mata kuliah baru!
Cerita sedikit, jadi saya sudah mengajar paruh waktu di sebuah universitas di Jakarta selama delapan tahun! Saya telah berganti pekerjaan dan perusahaan selama bertahun-tahun, tetapi kesamaannya, saya tetap mengajar. Biasanya saya mengajar seminggu sekali, baik di kelas maupun online. Senang rasanya bisa berbagi ilmu, ini salah satu hal yang membawa banyak kebahagiaan dalam hidup saya.
Jadi, kenapa saya cemas?
Selama saya mengajar, sebenarnya saya lebih banyak mengajar Digital Branding, dan semester ini saya menantang diri untuk mengajar mata kuliah baru (sebenarnya karena jadwal yang bentrok sihš). Jadi sekarang, saya akan mengajar Consumer behavior, dan jujur saya lumayan nervous karena belum pernah mengajar ini sebelumnya!
Bukannya saya tidak tahu apa-apa tentang mata kuliah ini (dulu saya juga mempelajarinya ketika kuliah!), tetapi dengan semua perubahan sosial dan teknologi yang ada, saya takut tidak bisa mengikutinya. Jadi saya terus menunda-nunda menyiapkan materi ajar, susah rasanya memulai.
Setelah menundanya selama berhari-hari, akhirnya saya menghabiskan akhir pekan dengan belajar dan riset, untuk menyiapkan materi untuk minggu itu. Coba tebak, hei, ternyata tidak seseram itu! Begitu saya melakukannya, segalanya menjadi lebih mudah dan saya tahu apa yang harus saya lakukan. Hore!š„³
Jadi, apa yang saya pelajari dari pengalaman ini?
1) Itās not that scary š»
Terkadang kita hanya terpaku pada pikiran kita yang menakutkan, terus menerus memikirkannya tanpa benar-benar menghadapinya. Begitu kita menghadapi rasa takut kita, biasanya hal itu tidak lagi menakutkan.
Kalau kamu memikirkan ketakutan kamu, cobalah tanya ini dalam hati, “apa sih hal terburuk yang bisa terjadi? apa yang bisa saya lakukan?”. Kamu mungkin akan terkejut melihat betapa entengnya jawaban tersebut. Saya juga sering menanyakan hal ini kepada klien-klien saya, dan mereka biasanya sangat terkejut menyadari ruwetnya pikiran mereka, padahal sebenarnya tidak semenakutkan itu..
Jadi, sebenarnya bukan konsekuensi nyata yang membuat kita takut, melainkan pikiran tentang hal itu.
2) Itās not that hard āØ
Nah, seperti kata Nike, just do it! Terkadang kita hanya perlu melakukannya. Begitu kita melakukan hal yang rasanya menakutkan itu, sering kali kita akhirnya merasa itu tidak terlalu sulit. Bagian tersulit adalah memulai, dan saat kamu melewati garis startā¦
Kamu bisa melakukan apa saja!

Jadi, izinkan saya bertanya
Halo apa yang selama ini kamu tunda karena takut (dalam pikiran)?
Apa sih hal terburuk yang mungkin terjadi? Apa yang bisa kamu lakukan mengenai hal tersebut?
Silahkan berbagi ya.
My wish for you is that you start taking actions toward your dreams, knowing that itās not scary and hard⦠Ā
And if you ever need my support, Iām here for you. ā¤ļø

Have a courageous week!
With love,
Inuk
P.S. The coaching intensive program From Stuck to Thrive is still open. If youāre feeling stuck, I want to support you! I promise youāll leave with a sense of confident and clarity.
P.P.S Spots for One-on-one Executive Coaching Program available from September is almost full. Book your free consultation call today

Leave a comment