“Bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu” – Arai, Laskar Pelangi
Saya mau cerita sedikit tentang Edensor, sebuah desa kecil berjarak satu jam naik bus dari kota Sheffield, Inggris. Ini bukan tempat wisata umum, tapi untuk anak Indonesia seperti saya yang tumbuh membaca buku Laskar Pelangi karangan Andrea Hirata (dan kemudian buku lanjutan dalam tetralogi Laskar Pelangi, berjudul Edensor), tempat ini memiliki tempat khusus di hati.
Edensor dikenalkan ke saya pertama kali dalam jalinan cerita seorang anak Belitong bernama Ikal yang diberikan sebuah kaleng bergambar dan bertuliskan Edensor oleh cinta masa kecilnya. Tempat ini seolah menjadi simbol sebuah mimpi besar seorang anak Indonesia yang terperangkap dalam berbagai keterbatasan hidup. Entah kenapa Edensor terekam terus dalam ingatan saya sejak pertama saya membaca buku tersebut.

Saya tidak pernah mengira bahwa mimpi saya untuk melanjutkan sekolah, tinggal di luar negri dan membuka mata saya pada dunia, bisa terealisasi dengan segala keterbatasan yang saya miliki saat itu. Dan ketika mimpi tersebut menjadi kenyataan, saya menetapkan hati untuk napak tilas ke sebuah desa bernama Edensor di dataran tinggi Derbyshire tidak jauh kota Sheffield, Inggris.
Ada peristiwa lucu ketika saya kesana. Saya ingat waktu itu Inggris baru saja lepas musim dingin, bulan May tahun 2014, suhunya saat itu belasan derajat, tapi cukup nyaman untuk berjalan-jalan dengan jaket yang tidak terlalu tebal. Saya berangkat dari kota saya tinggal Birmingham menuju Sheffield naik kereta api (oh, I love taking train so much!). Saya janjian dengan sahabat saya Siti yang saat itu kuliah di kota York, karena letaknya ditengah kami putuskan untuk langsung ketemu di sana.
Setelah sibuk cek Google map, dan browsing sana-sini akhirnya kami mengetahui bahwa kami harus naik bus sejam lagi menuju dataran tinggi Derbyshire. Kami menuju terminal bus untuk mencari bus ke arah sana, dan bertanya ke Bapak bagian informasi.
Lucunya kami malah berargurmen dengan beliau yang tidak menyarankan kami untuk pergi ke Edensor, tapi malah ke Chatsworth House yang menjadi populer karena film Pride and Prejudice. Katanya “There’s nothing there in Edensor, only stones!”. Well, guess what, we don’t care – we need to get there! kata saya dalam hati, hehe.. nggak kok, kami tetap berbicara sopan dengan si Bapak.
Setelah beberapa saat, akhirnya beliau menyerah dan memberitahu kami bus mana yang harus kami naiki untuk sampai ke tempat tujuan kami, Edensor.
Berangkat!
Naik bus menuju Edensor sungguh sebuah perjalanan unik karena melalui jalan berliku di perbukitan Derbyshire dengan pemandangan yang super indah. Hamparan rumput hijau dan pepohonan khas Inggris terbentang sepanjang mata. Tidak jarang terlihat bangunan dan rumah-rumah tua sepanjang perjalanan, rasanya seperti di berada dalam cerita-cerita film berlatar zaman medieval.
Lucunya, bahkan ada penumpang yang meminta turun di tengah jalan, ternyata untuk, maaf, muntah. Ya, jalanan yang berkelok tidak jarang membuat perut jadi mual. Bahasa di daerah sana juga agak berbeda, saya ingat sebelum turun dan mengucapkan terima kasih pak supir sempat bilang, “Thank you, Duck!”, saya bingung lah, emangnya saya bebek?
Ternyata disana memang seperti itu, panggilan tersebut sama dengan “Honey”, atau “Love” di daerah tengah dan selatan Inggris. Mungkin karena Derbyshire sudah lebih ke utara, mendekati Scotland yang secara bahasa dan logat lebih “medok”.
Sampai di Edensor, awalnya saya hanya bisa terdiam. Dalam hati, Ya Allah.. ini mimpi ya saya bisa sampai disini, mimpi benar jadi nyata. Tidak pernah terbayangkan saya bisa menginjak tanah Ratu Elizabeth, apalagi sampai ke Edensor yang diam-diam masuk di pikiran saya, menjadi simbol manifestasi dari mimpi-mimpi saya.
Dan.. tebak, ternyata Chatsworth bertetanggaan persis dengan Edensor.
Desa Edensor

Edensor adalah sebuah desa kecil yang sepi dengan sebuah gereja tua yang tampak menonjol diantara rumah-rumah tua, dan sebuah tea house yang akhirnya kami datangi. Kalau tidak salah ada sebuah bed & breakfast disana, dan ini favorit saya, ada sebuah rumah yang menjual honey atau madu homemade yang dikemas dengan kain kotak-kotak beraneka warna, lucu banget.
Anehnya, loh tidak ada yang jaga, hanya ada sebuah papan bertuliskan harga dan kotak berbentuk rumah dari kayu untuk menaruh uang kalau kita mau beli, macam kantin kejujuran. Oh ya, kita bisa menemukan domba-domba macam Shaun the Sheep berlarian bebas di sekelilingnya.
Kami putuskan untuk melihat-lihat desa tersebut, kemudian mampir di Edensor Tea House (recommended!). A very beautiful small tea place in the quiet neighbourhood. Setelah makan ya, kami berkeliling aja, foto-foto, menikmati mimpi yang jadi nyata, dan…mengejar domba! hehe..

Satu hal yang saya pelajari dari cerita ini adalah dreams do come true in so many ways. Sepertinya benar, kita tidak boleh takut bermimpi karena semua usaha dan kerja keras kita di dorong oleh mimpi.
Terakhir, mengulang kata-kata Arai, dalam buku Laskar Pelangi, “Bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu” . Ternyata benar adanya,
mimpi saya jadi kenyataan!

Inuk ☕
ps. foto-fotonya agak kurang bagus dari hape jadoel saya kala itu hehe

Leave a reply to Ganjar M Cancel reply