Silaturahmi di Eropa

Beberapa waktu yang lalu tepatnya pertengahan bulan Agustus saya memutuskan untuk pergi traveling sendiri ke Belanda (well, dan sekitarnya). Traveling kali ini jauh dari serius, tidak ada perencanaan yang luar biasa atau apapun. Saya membeli tiket pulang pergi Jakarta-Amsterdam kurang dari dua bulan sebelum kepergian jadi cukup mepet untuk mengurus visa dan lain-lain.

Belakangan ini saya memang lebih suka traveling sendiri, rasanya lebih tenang, dan mungkin karena udah susah juga ya ngajak siapa-siapa haha… Tapi saya memang suka jalan sendiri karena jadi banyak waktu untuk diri sendiri dan benar-benar menikmati pengalaman as it is.

Walaupun ini bukan pertama kali saya pergi ke benua Eropa, tetap aja ada perasaan nervous, tapi ya sudah lah jalan sajaPerbedaannya adalah kali ini saya jalan-jalan hanya untuk bersantai, bertemu teman-teman, dan menikmati perjalanan. Jadi utamanya BUKAN untuk jalan-jalan padat ke tempat-tempat wisata. Jadi cerita kali ini bukan rekomendasi tempat wisata yaa…. hehe.

Rasanya jalan-jalan kali ini saya tidak mau terlalu banyak di pikirin, pengennya santai aja, dan mengikuti kemana kaki melangkah.

Doha, Qatar: Dunia itu sempit

Perhentian pertama adalah di negara timur tengah, Qatar, walaupun hanya untuk transit. Saya pergi naik Qatar Airways dimana rute nya adalah Jakarta – Doha 9 jam, transit 8 jam, sebelum melanjutkan perjalanan Doha – Amsterdam 6 jam! well, I don’t mind really.

Nah disinilah bisa di bilang cerita perjalanan saya di mulai. Percaya atau tidak, dalam transit saya yang panjang itu di tengah malam saya ketemu dengan teman saya Pai yang sedang transit juga menuju Eropa! Kebetulan ia juga naik Qatar Airways. Pai yang berkebangsaan Thailand pertama kali saya temui di Singapura waktu saya backpacking kesana sekitar sembilan tahun yang lalu, kami berkenalan karena kami satu kamar di sebuah hostel di sana (yah, namanya juga jaman-jaman susah hehe).

Kebetulan, kami lahir di tahun yang sama dan zodiak kami juga sama hehe. Setahun kemudian saya ke Thailand untuk mengunjungi Pai dan keluarganya. Banyak cerita yang menyenangkan ketika saya disana. Setelah itu kami hanya berkabar sesekali melalui Facebook, tidak banyak.

Jadi ya saya excited alias girang banget bisa ketemu Pai di Hamad International Airport walaupun hanya sebentar. Dia pun kaget dan excited juga. Gimana ceritanya bisa ketemu disini haha..rasanya masih seperti dulu saja, Pai tidak berubah sedikit pun, dia pun bilang hal yang sama ke saya. I feel, It is indeed destiny 

The world is just too small for us! 

Eindhoven, Netherlands (Belanda): Feels like home

Jalan sendiri tapi rasanya tidak benar-benar sendiri. Dalam perjalanan ini, saya paling banyak menghabiskan waktu di Eindhoven, sebuah kota berjarak sekitar dua jam perjalanan kereta dari Amsterdam. Well, ini memang destinasi utama saya pergi kali ini. Alasannya, saya mengunjungi teman saya Via yang pertama kali saya kenal di Jakarta sekitar sepuluh tahun lalu di sebuah komunitas di Jakarta yang saya ikuti. Bisa dibilang Eindhoven adalah base camp saya selama perjalanan saya ini.

Via saat ini menetap di Belanda, tinggal di rumahnya di Eindhoven bersama suaminya yang berkebangsaan Polandia dan anaknya yang masih baby bernama Nikki. Ah saya beruntung sekali, dia sangat baik meminjamkan sebuah kamar tamu-nya yang sangat cantik untuk saya tinggali cukup lama. Rumahnya cukup besar, dan yang paling epic adalah pemandangan halaman belakangnya adalah hutan yang langsung bisa dilihat dari rumah.

Selama di Eindhoven, saya bagian jaga anak haha (well seringnya, tapi saya senang!). Di samping kegiatan sehari-hari, kami sempat jalan-jalan ke piazza atau city-centernya, pergi belanja kebutuhan sehari-hari dan bersepeda pagi. Nonton Netflix di ruang keluarga yang nyaman dengan layar dan infocus besar adalah salah satu kegiatan favorit saya, dan  yang paling banyak tentu saja mengobrol tentang berbagai hal dari yang receh sampe soal kehidupan! Yah..namanya juga cewek ya, hehe.. Senang rasanya bisa silaturahmi ke sana, banyak cerita juga.

Saya sangat menikmati waktu selama saya disana, benar-benar santai, dan hanya mengikuti ritme kehidupan. Eindhoven menjadi tempat yang familiar dalam sekejap, jalan naik bus dan kereta sendiri menjadi hal yang sangat biasa buat saya.  Feels like home.

Duh, saya jadi kangen sama Nikki yang sangat menggemaskan. Di Eindhoven juga saya bertemu teman baru, minum ringan dan dinner cantik dengan outdoor setting pada waktu summer adalah sebuah pengalaman yang tidak akan saya lupakan. Saya bersyukur sekali punya kesempatan menghabiskan waktu disana, kalau bukan karena obrolan whatsapp saya dengan Via, rasanya hampir tidak mungkin saya pergi Belanda!

Terima kasih Via. I couldn’t thank her enough. 

eindhoven.PNG

Villepreux – Versailles – Paris, France (Perancis): Family dinner 

Silaturahmi kedua saya adalah di Villepreux, sebuah kota di pinggir kota Paris di Perancis. Perjalanan ke Villepreux cukup mendebarkan sebenarnya. Jadi saya naik kereta antar negara Thalys dari Amsterdam ke Paris sekitar 3 jam lebih, kemudian saya harus naik metro alias kereta bawah tanah ke pinggir kota Paris selama setengah jam, dan…disusul dengan kereta antar kota ke Villepreux. Total 3 kali naik kereta dengan waktu tempuh 4,5 jam (termasuk jalan ganti kereta). Alhamdulillah, sampe juga euy! Terima kasih juga teruntuk Google Map, haha.

Saya mengunjungi teman yang juga salah satu kolega saya sesama dosen di kampus tempat saya bekerja di Jakarta. Kenal mba Hani sudah sekitar 3 tahun, dia tinggal dan bekerja di Jakarta tapi suami dan anaknya tinggal di Perancis, jadinya mba Hani sering bolak-balik kesana. Nah kebetulan saya lagi di Eropa dan dia juga sedang disana, akhirnya saya putuskan untuk mengunjungi mba Hani dan keluarga!

Dua hari di Perancis kami hanya banyak jalan-jalan santai, lihat-lihat pertokoan di dekat rumah mba Hani, jalan santai di sekitar Versailles (tapi nggak masuk ke palace-nya) dan makan crepes yang adalah khas Perancis di sebuah cafe kecil dekat pasar di sana. Rumah mba Hani dan keluarga adalah sebuah apartemen di lantai lima yang luasnya cukup tapi masih kental unsur perancisnya dengan beberapa furniture klasik khas negara tersebut.

Saya suka banget balkonnya, cantik dengan bunga-bunga di pot yang bermekaran. Selama disana, saya banyak ngobrol juga sama mba Hani cari ide buat mmm…rahasia! haha. Kami banyak ngobrol di pantry. Saya suka banget ngobrol di dapur atau pantry, mengingatkan saya dengan masa-masa saya tinggal di Inggris dulu, dimana dapur atau pantry adalah tempat yang paling sering digunakan untuk berkumpul dan mengobrol (ah..how I suddenly missed Birmingham)

Dalam silaturahmi ini, saya dua kali makan bersama keluarga mba Hani yang pertama ketika di jemput di stasiun dan yang kedua adalah adalah di pinggir sungai Seine di downtown Paris, ah..lucu banget, kebetulan Karissa putrinya mba Hani ulang tahun hari itu, jadilah kami birthday dinner di pinggir sungat sambil menikmati suasana sore kota Paris. Setelah, kami mampir sebentar untuk melihat (dan foto….) menara Eiffel yang cantik di malam hari. Dalam hati saya berpikir, mimpi apa saya bisa melihat menara Eiffel lagi? Subhanallah.. 

paris.PNG

Btw, on the side note, kok saya lebih suka naik kereta Argo Parahyangan ya dibandingkan kereta Thalys ya…. hahaha..

Opoeteren, Belgium (Belgia): Good old friend

Silaturahmi ketiga saya adalah di Opoeteren, sebuah kota kecil di Belgia yang berbatasan tidak jauh dari Belanda. Saya naik kereta Thalys (lagi) dari Paris ke ibukota Belgia yaitu Brussel sekitar satu jam, kemudian saya naik kereta antar kota ke Hasselt, dimana Chris jemput saya disana untuk kemudian kita naik mobil ke rumahnya di Opoeteren.

Chris adalah salah satu teman baik saya, kami pertama kali bertemu sekitar sepuluh tahun lalu melalui situs pertemanan, dan dari situ kami mulai bertukar cerita melalui email yang panjang hampir setiap hari (yes, email mostly, not chat!). We became very good friends ever since, sampai akhirnya setahun kemudian ia mengunjungi saya di Jakarta. Panjang sebenarnya kalau mau diceritain haha, but long-short story we always been good friends no matter the distance is.

Saat ini Chris tinggal bersama istri dan anaknya yang berdekatan dengan rumah mertuanya. Saya sempat ngobrol juga dengan kakak ipar dan ibu mertua Chris walau sebentar, they are really nice people! Mereka juga meminjamkan saya satu kamar untuk saya menginap malam itu. Senang rasanya bisa catch-up lagi dengannya, walaupun kami tidak bertukar cerita banyak seperti dulu, but he will always stay in my heart.

Di Belgia saya benar-benar nggak kemana-kemana, pertama karena Chris harus harus pergi sekolah bahasa, dan saya juga rasanya emang nggak kepengen jalan-jalan sih. Tujuan saya kesana memang hanya silaturahmi, hehe.. Setelah menginap semalam disana, paginya saya di antar Chris ke stasiun Susteren yang sudah masuk negara Belanda, dan saya naik kereta balik ke Eindhoven.

Saya bersyukur sekali bisa berkesempatan mengunjungi Chris. It was sureal! 

Amsterdam, Netherlands (Belanda): Friends and the city 

Amsterdam sebenarnya bukan kota favorit saya, mungkin karena terlalu ramai dan banyak turis ya.Walaupun demikian, saya akui Amsterdam kotanya memang cantik sekali dengan kanal-kanal yang menjalar di penjuru kota dan banyaknya sepeda di parkir serta lalu lalang orang-orang bersepeda.

Selama trip saya, beberapa kali saya bolak-balik Amsterdam dari Eindhoven. Pertama ketika baru sampe sana, terus jalan berdua sama Via. Dan yang terakhir adalah di minggu terakhir saya dimana, again, saya silaturahmi lagi. hehe..

Saya ketemuan sama Maria yang berkebangsaan Spanyol, salah satu teman baru yang saya kenal dari komunitas swing-dance yang saya ikuti Indoswing di Jakarta sejak akhir tahun lalu. Maria dance bagus banget dan dia banyak mengajari saya. Sayangnya Maria sekarang sudah tidak bekerja lagi di Jakarta, baru-baru ini dia mendapatkan pekerjaan di negara tetangga.

Ketika saya di Belanda, kebetulan Maria juga sedang di Amsterdam untuk membantu adiknya yang mau pindahan. Jadilah saya ketemuan dengannya serta adik dan room mate-nya. Kami sempat dinner bareng juga dengan mereka di tambah satu orang lagi teman Maria seorang penduduk Belanda namun asli Turki. hehe..

Cerita lucu, Nah kan ya…ceritanya saya dan Maria mau dateng ke swing-dance social event disana, eh pas kita dateng ternyata di cancel dong..ada kawinan hahaha.. Awalnya saya berencana untuk menginap semalam saja di Amsterdam karena malas balik ke Eindhoven kalau balik kemalaman. Saya menyewa AirBnB tidak jauh dari Central Station untuk semalam, tapi karena event-nya batal akhirnya kami mencari event lain yang ternyata ada dong keesokan harinya. Jadilah akhirnya saya menginap semalam lagi di Amsterdam, cuma kali ini numpang di tempat adiknya Maria yang lagi diberesin karena mau pindahan. Lumayan, sempat bantu-bantu juga sedikit. hehe..

Siangnya saya ketemuan sama Caca, teman SMA saya yang sekarang menetap di Amsterdam. Ini pertemuan kedua saya dengannya di Amsterdam, sebelumnya sekitar lima tahun lalu ketika di Euro trip pertama saya. Kita lunch bareng di sebuah restoran lokal kecil yang bernama The Breakfast Club. Singkat kata, lunch-nya jadi lama sekali karena banyak sekali cerita yang harus di update. Hidup ini penuh cerita, asam manisnya, saya jadi banyak belajar juga. Ya lagi-lagi, kan namanya juga cewe ya panjang jadinya, haha…

Sedikit cerita tentang swing-dance, setelah gagal ikutan social swing dance disana akhirnya saya dan Maria pergi ke event berikutnya esok malamnya. Tempatnya sebuah kafe blues kecil, well more like small studio sih, dengan live music jazz. Saya berdansa dengan beberapa orang lain, yang ternyata berasal dari banyak negara, bukan hanya Belanda. Walaupun social event yang ini tidak terlalu besar, tetap menyenangkan bisa nge-dance disana dan mengalahkan rasa minder saya untuk berdansa di komunitas lain. Saya baru tahu kalau ternyata hampir di setiap kota besar di dunia, selalu ada komunitas dance ini dan selalu ada acara social-nya. Ahh besok-besok kalo lagi jalan-jalan ke luar negri mau lagi. haha..

amsterdam.PNG

Maastricht and Giethorn, Netherlands (Belanda): Desa wisata 

Bisa dibilang ini adalah dua tempat wisata yang proper saya kunjungi selama perjalanan saya di Eropa kali ini (karena kan saya lebih banyak jalan-jalan silaturahmi ya, hehe). Saya kesana bareng sama Via, suami dan anaknya. Hari ketiga di Belanda kami pergi ke Maastrich sebuah kota tua di selatan Belanda, jaraknya sekitar 2 jam berkendara mobil.

Layaknya kota-kota tua di Eropa, Maastricht sangat cantik dengan bangunan-bangunan klasik dan jalan berbatu seperti di dongeng-dongeng, dinding yang ditumbuhi tanaman hijau dan bunga-bunga yang tumbuh subur di halaman. Ah…cantik banget. Setelah cape berjalan kami akhirnya makan di kedai cantik bernama Livin’ Room, sempat salah pesan sandwich juga saya *eh haha..

masstrich.png

Selanjutnya adalah Giethorn. Karena saya berangkat dari Amsterdam, saya harus naik kereta sendiri ke Giethorn dan janjian dengan Via dan keluarga di sana yang berangkat dari Eindhoven. Giethorn adalah sebuah desa kecil yang terkenal dengan sebutan Venice-nya Belanda. Seperti Venice, desa tidak memiliki jalan besar, tetapi hanya memiliki kanal yang menghubungkan antar rumah. Disana kami naik boat yang banyak disewakan, dengan mas kapten masih muda bercerita tentang sejara Giethorn. Dia banyak nge-joke juga, jadi perjalanan mengelilingi Giethorn jadi lebih menyenangkan.  Giethorn cantik sekali, walaupun saya agak menyayangkan hari itu banyak turis yang beredar disana karena cuacanya sangat cerah.

giethorn2.PNG

Bonus: Main piano di Belanda

Masih ingat saya sewa AirBnB di Amsterdam untuk semalam? Kebetulan yang punya kamar sepertinya seorang guru musik. Di kamar yang saya sewa ada piano, bass, cello dan violin! Karena saya lagi belajar piano akhirnya tentu saya saya ambil kesempatan untuk main lagu kesayangan saya River Flows in You dari Yiruma di kamar. Nggak nyangka ada juga kesempatan main piano di Amsterdam. Super happy! 

Dalam perjalanan ke Giethorn dari Amsterdam, saya pergi naik kereta dan saya harus transit di stasiun Zwolle, tebak ada apa disana di tengah-tengah stasiun… baby grand piano! Wo.. rasanya jadi inget video-video Youtube orang main piano di stasiun. Akhirnya saya kumpulkan keberanian untuk main piano disana! Saya main River Flows in You lagi karena lagu itu yang paling saya ingat tanpa partitur.  Walaupun nggak ada yang melihat juga, saya tetap senang. hahaha… I’m so glad I decided to do so, and I’m so glad I decided to take the first step taking my piano lesson almost two years ago.

Nggak nyangka bisa main piano di Belanda. Super super happy!  

Epilog 

Begitulah cerita singkat perjalanan saya belum lama ini, hehe…  Total perjalanan saya adalah lima belas hari dari mulai berangkat sampai kembali ke tanah air. Selain cerita diatas, sebenarnya banyak juga waktu dimana saya jalan benar-benar sendiri tidak bersama teman, dari mulai jalan kaki, naik bus, kereta, minum kopi di kedai kecil, bahkan berbelanja oleh-oleh. Salah satu favorit saya mungkin setiap kali perjalanan naik kereta, saya sangat menikmati waktu saya di kereta sendiri, melihat sekitar dan tak jarang di iringi lagu -lagu kesayangan saya melalui headset.  Walaupun nggak banyak planning, tapi banyak sekali cerita dan pengalaman yang saya sangat syukuri. Jalan-jalan sendiri, bertemu teman-teman, bertukar cerita, dan menikmati setiap langkah perjalanan…

Singkat kata, saya bersyukur sekali dengan kesempatan dan pengalaman dari perjalanan saya ini. Banyak pelajaran juga yang saya ambil, dan bertemu dengan orang-orang baik dalam hidup saya.

I’m so glad that I wrote it down, I hope to come back to this story anytime I feel to. 

I am blessed. 

With love,

Inuk β˜•


Image header from Pexels

6 responses to “Silaturahmi di Eropa”

  1. ganjar mutaqien Avatar

    subhanallah luar biasa mantap liburannya Ibu Inuk

    Like

  2. Mainin piano, di tengah stasiun, di belanda?
    Wow. Just wow.
    I feel like im walter mitty from the beginning of the movie, unevolved, all inhibited and afraid and clumsy while you’re walter from the end of the movie, highly evolved, uninhibited, free, spirited.

    Salut banget sama semua yang udah kamu lewatin utk bisa ada di posisi kamu yg skrg krn pasti ga gampang πŸ™‡πŸ½πŸ™‡πŸ½

    Nb : filmnya ben stiller, secret life of walter mitty πŸ˜€

    Like

  3. Oh by posisi i meant emotionally, reading ur blogs i feel like u have achieved a permanent clear and peaceful state of mind. Like you are in control in every second of ur life. Hopefully i can pick up one or two things from these amazing writings

    Like

    1. Hi Yodi, thank you for your kind comment. I have to say it’s actually quite the opposite, I let go of control of my life.. 🌝

      Ps. Definitely will check the movie!

      Like

  4. Well, kind of, but what i meant with in control is you conciously choose to do things and fully experience it. Others are not that fortunate. Some of us here are just plodding through day by day. Woke up at dawn, go into autopilot and somehow its dusk and we have to hit repeat.
    I’ve been feeling like that for some time now so when i stumbled across this blog it hit hard.
    Hopefully i can learn from the experience

    Ps. If you havent already then You should! πŸ™‚

    Like

    1. I hear you and I feel you. I hope my blog serves you. And oh, I feel that it is never too late for personal growth.. it always comes at perfect divine timing. πŸ˜‰

      Like

Leave a reply to ganjar mutaqien Cancel reply

Stay connected and be the first to know!

Makes your inbox happy and read my fresh new article every week (plus, some personal stories inside)! 🍡

Processing…
Success! You're on the list.