Minimalis: belajar hidup lebih bijak

Salah satu buku yang pernah saya baca dan mengubah perspektif saya dalam menjalani hidup adalah “Goodbye, things” karya Fumio Sasaki, seorang berkebangsaan Jepang yang menjadi terkenal karena gaya hidupnya yang minimalis dan kemudian mempopulerkan gaya hidup ini ke masyarakat yang lebih luas.

Apa itu minimalism atau hidup minimalis?

Pertama kali saya mengenal kata minimalis adalah melalui sebuah tayangan TedTalk oleh dua orang berkebangsaaan Amerika Serikat yang menyebut dirinya The Minimalist. Mereka sibuk mempromosikan gaya hidup ini melalui film dokumenter dan bicara di berbagai kesempatan. Saya pikir wah ini menarik sekali ya.

Inti dari hidup minimalis adalah bukan sekedar mengurangi barang-barang yang kita punya, tapi lebih ke arah hidup berkesadaran penuh yang di mulai dari mengurangi attachment atau keterikatan kita terhadap possesion atau rasa kepemilikan kita terhadap apa yang kita punya.

Minimalis bukanlah sebuah gerakan anti kemapanan, tapi lebih ke arah sebuah konsep dimana kita bisa hidup lebih sederhana atau lebih tepatnya lagi lebih bijak, meninggalkan keterikatan emosional dengan apa yang kita miliki. Dan yang terpenting adalah menjadi bahagia dengan diri kita yang sebenarnya tanpa embel-embel tersebut.

Tidak salahnya memiliki barang-barang, selama memang memiliki nilai fungsional dan bisa memberikan nilai pada kehidupan kita, tanpa menjadikannya sebuah beban baru dalam kehidupan. Misalnya, tidak ada salahnya kok punya laptop yang bagus (dan mungkin mahal) asal memang di gunakan untuk mendukung pekerjaan lebih produktif.

Kembali lagi, apa tujuannya?

Really it’s about understanding what’s really important in our life, and I do believe that’s not our possessions.

Kadang kita silau dengan berbagai macam kepunyaan kita (atau yang ingin kita punyai), entah untuk sebuah kebahagiaan yang sifatnya sementara atau ya, walaupun sulit mengakui, kadang kita menggunakan barang-barang yang kita miliki dan menjadikannya bagian dari identitas diri dan sosial.

Keterikatan emosional terhadap barang-barang juga bisa disebabkan oleh memori tentang barang tersebut. Padahal, barang adalah barang, tidak lebih dan tidak kurang. Hanya memorinya saja yang melekatkan emosi kita.

Padahal yang perlu di sadari adalah pertanyaan, apa sih yang sejatinya benar-benar penting dalam kehidupan kita? Apakah itu adalah pengalaman yang kaya, hobi yang membahagiakan, hubungan baik dengan pasangan, teman atau keluarga, atau apapun itu. Tanyakan kembali ke diri.

Buat saya pribadi hal-hal yang penting, malah bentuknya tidak kasat mata. Fokus kita ke hal-hal penting tersebut seringkali terdistraksi oleh kepemilikan atau keinginan kita akan barang-barang tertentu.

Lucunya, ketika kita mengurangi barang-barang yang sebenarnya tidak perlu, fokus kita akan kembali jadi jernih ~ ini yang ditawarkan gaya hidup minimalis. Tapi menurut saya, bisa juga sebaliknya, ketika kita fokus pada hal-hal yang penting, maka kepemilikan barang yang berlebihan menjadi sebuah hal yang tidak perlu lagi. Well, whichever works for you I guess. 🙂

I wish to live a more meaningful life

Sebetulnya konsep ini bukan barang baru untuk saya, karena sudah sejak dulu saya berusaha untuk hidup sewajarnya. Terlebih ketika saya tinggal di Inggris, rasanya saya tidak ingin menumpuk barang-barang yang tidak benar-benar saya perlukan.

Saya seperti selalu diingatkan bahwa disana saya hanya sementara dan saya tidak membutuhkan banyak hal. Saya datang kesana dengan satu koper besar, dan kembali dengan koper yang sama. Di kala teman-teman saya sibuk menyewa jasa logistik untuk membawa pulang barang-barang yang bertambah sejak tinggal di sana, saya tidak ikut-ikutan.

Saya pikir buat apa ya menumpuk barang di Inggris, kemudian bawa ke Indonesia, dimana akhirnya numpuk-numpuk juga? Yang saya lakukan adalah meninggalkan beberapa barang yang kiranya masih bisa digunakan oleh penyewa berikutnya kamar kontrakan saya dan barang-barang lain saya sumbangkan ke local charity shop. Ada juga sedikit barang yang akhirnya saya jual di Ebay.

Perjalanan saya untuk mengadopsi gaya hidup ini juga tidak selalu mulus.  Saya sempat terjebak kembali mulai menumpuk barang-barang ketika saya kembali ke Indonesia dan bekerja. Punya penghasilan yang lebih membuat saya jadi ringan tangan untuk membeli barang-barang baru dan akhirnya mulai menumpuk di kamar, dari mulai pakaian, sampai hal remeh-temeh yang saya beli lewat situs belanja online karena kemudahannya.

Dan karena sudah pulang kampung, saya tidak lagi menganggap saya di sini hanya sementara. Sampai akhirnya saya mulai melihat ke sekeliling, eh lah kok saya jadi begini, kamar saya terlihat padat dan penuh dengan barang-barang yang sebetulnya tidak saya benar-benar gunakan. Di waktu itu jugalah saya membaca “Goodbye, things” yang membantu saya kembali ke persepektif awal saya mengenai kepemilikan barang.

I feel I lost my attachment to things. Well, most of it at the very least…

Punya kepemilikan yang banyak juga artinya banyak waktu dan energi yang hilang untuk merawat ataupun misalnya, membersihkan barang-barang tersebut. Dan ini bisa juga berujung pada kekesalan. Beres-beras itu lumayan cape loh.

Bagaimana memulainya?

Ada banyak hal yang saya lakukan untuk berusaha hidup lebih bijak, sedikit-sedikit..

  • Saya selalu melihat ke lemari baju saya, mulai mensortir mana yang benar-benar saya gunakan, mana yang tidak. Saya memilih untuk memberikan rumah baru untuk baju-baju yang sudah tidak digunakan baik di sumbang atau dikasih ke yang membutuhkan, seberapapun nilai emosionalnya (misalnya karena dikasih, atau harganya mahal). Lama-lama hal ini jadi tidak sulit lagi di lakukan.
  • Sebelum membeli barang atau tiba-tiba tertarik dengan diskon di mall, saya selalu bertanya ke diri “Do I really need this? Is it really important?” Kalau tidak perlu-perlu amat ya tidak usah di beli.
  • Sebagai seorang perempuan, tantangannya lumayan berasa untuk barang-barang fashion. Jika akhirnya saya memutuskan untuk membeli saya harus mengeluarkan barang yang sejenis dalam minimum jumlah yang sama. Prinsipnya, one in – one out. 
  • Untuk urusan kosmetik juga, saya hanya punya masing-masing satu jenis. Tidak lebih, dan tidak membeli baru jika belum habis. Lipstik saya cuma satu sekarang hehe.. dan makin lama makin sedikit. Tapi ini kebetulan juga saya bukan yang suka make up banget sih. hehe..
  • Saya membuang hampir semua loyalti card dari berbagai merchant yang dulu saya kumpulkan. Toh saya juga tidak segitunya lagi untuk belanja. Lumayan loh, dompet juga lebih tipis. hehe.. Hal yang sama juga terjadi pada surat-surat, atau brosur-brosur lama yang  menumpuk karena saya pikir akan bermanfaat suatu saat nanti.
  • Banyak sekali buku yang menumpuk di rumah, dan ini salah satu yang paling berat juga untuk disingkirkan pertama kali. Saya pilih beberapa yang benar-benar saya suka, sisanya saya sumbang, jual di toko buku barang bekas dan beberapa saya tawarkan ke teman-teman. Kalau mereka baca juga lebih baik toh?
  • Kamar juga saya tata lebih simpel, supaya pandangan saya luas, tidak pusing. Warna dinding putih juga jadi pilihan. Tetap ada beberapa dekor di dinding dan headboard tempat tidur saya, tapi hanya yang benar-benar meaningful. Tidak ada lagi barang-barang ekstra di atas lemari pakaian atau sudut-sudut ruangan, semua ada tempatnya. Dan karena barang sekarang lebih sedikit, menata dan membersihkan kamar jadi urusan gampang.
  • Dulu saya berpikir harus menyimpan semua barang memori atau kado, biasanya dari orang lain untuk menghargai sang pemberi. Tapi kalau hanya menumpuk di sudut kamar, ah rasanya itu bukan menghargai. Rasanya ketika barang tersebut bisa memberikan manfaat pada orang lain, itu juga bentuk penghargaan kita. Btw, bisa jadi yang ngasih juga udah lupa loh pernah ngasih, haha..
  • Beberes digital juga kerap saya lakukan. Di handphone, saya uninstall program atau aplikasi yang memang tidak di pakai, di home screen pun saya tata supaya clean dan tidak berantakan. Sama halnya dengan laptop saya, dokumen-dokumen saya rapikan dan tidak ada shortcut sama sekali di homescreen atau walpaper saya.
  • Apalagi ya… banyak sih sampe lupa. Hehe.. Kalo di buku sih banyak tips-nya.

Pada titik ini, saya juga jadi tidak mudah lapar mata melihat iklan-iklan yang bertebaran, ataupun ketika sedang jalan-jalan di mall misalnya. Saya juga tidak mudah tergoda oleh diskon-diskon baik di toko fisik ataupun online. Kalau memang barangnya tidak dibutuhkan, diskon jadi tidak menarik lagi.

Saya juga jadi memilih dan menggunakan lebih sedikit barang, namun dengan kualitas yang bagus supaya bisa tahan lama. Seperti kata Fumio dalam bukunya, sebenarnya ini juga sama dengan mengadopsi sustainable living atau environmentally friendly pada saat yang sama.

Selain itu, saya juga tidak panikan lagi misalnya harus punya barang-barang cadangan, cukup satu aja. Kalaupun mau nyetok, ya secukupnya ajalah. Kalau ada barang rusak, ya sudah di perbaiki atau cari yang baru, ada lead time sedikit tidak apa-apalah. Oh ya, mata saya jadi capek kalo melihat barang yang menumpuk tidak perlu, dan langsung segera pengen sortir… *eh

Yuk beberes!

“Love people. Use things. The opposite never works” — The Minimalist

With love,
Inuk ☕


Photos by Pexels

2 responses to “Minimalis: belajar hidup lebih bijak”

  1. ….tulisan bagus… mengalir…

    Like

    1. Terima kasih 🙏

      Like

Leave a reply to Mang ucung Cancel reply

Stay connected and be the first to know!

Makes your inbox happy and read my fresh new article every week (plus, some personal stories inside)! 🍵

Processing…
Success! You're on the list.