Sebenarnya sudah lama saya ingin menulis tentang ini. Yah mau dibilang apa, saya ini anaknya hopeless romantic, haha.. Mungkin kebanyakan nonton film atau TV series ber-genre drama atau komedi romantis yang manis-manis, jadi saya begini deh. Ada beberapa tempat umum yang punya tempat khusus di hati saya. Rasanya saya punya keterikatan emosional tertentu dengan tempat-tempat ini, bukan dalam hal yang negatif ya. hehe..
Rumah Sakit
Yes, betul rumah sakit. Bisa di bilang saya besar di lingkungan kesehatan, Ibu saya mengabdi sebagai perawat lebih dari 30 tahun lama-nya, dan Ayah saya dulu bekerja di bagian manajemen rumah sakit tempat ibu saya bekerja (yes, disana mereka ketemu! ciye). Ah, rasanya rumah sakit itu jadi tempat bermain saja sejak kecil. Kakak saya juga kebetulan adalah seorang dokter.
Ketika Bapak sudah pensiun, dia kerap bolak balik antar jemput ibu bekerja di RS Persahabatan, dan saya kerap ikut Bapak menjemput Ibu sepulang sekolah. Rasanya familiar sekali melihat lalu lalang orang baik pasien maupun keluarga, dikenalkan dengan staf rumah sakit dan kalau saya sakit sedikit pasti langsung di bawa kesana. Tidak seperti kebanyakan orang, saya merasa tidak takut berada di tengah orang-orang sakit (atau dan keluarga-nya), malah saya merasa seperti di rumah.
Lima tahun lalu saya menerima pekerjaan di sebuah perusahaan yang gedung kantornya menempel dengan Rumah Sakit MMC di daerah Kuningan, Jakarta. Entah kenapa saya rasanya senang sekali, kok seperti ke tempat yang familiar setiap hari. Tidak lama saya pun nyambi menjadi dosen di sebuah universitas swasta di area yang sama. Area ini rasanya sangat dekat, saya tidak jauh-jauh dari rumah sakit. Walaupun saya tidak lagi bekerja di perusahaan tersebut, saya tetap selalu punya perasaan nostalgia yang sama dengan rumah sakit.
Sayangnya beberapa waktu yang lalu, ketika Bapak sakit dan mengharuskan di rawat di rumah sakit di tengah pandemik Corona ini, perasaan saya jadi sedikit berubah. Selama 3 hari saya berada disana dan tambahan 5 hari bolak balik setiap hari, kali ini saya merasa sedikit cemas. Sejujurnya saya tetap menyukai rumah sakit, tapi dengan berbagai protokol ketat yang ada sekarang dan ancaman virus covid-19, rasanya rumah sakit tidak lagi menjadi “rumah” buat saya. (hiks)
Kantor Pos

Ah.. the old classic place. Dari dulu saya suka banget sama kantor pos, tidak tahu kenapa. Dari kecil saya suka di bawa Bapak ke kantor pos untuk mengirim surat dan melakukan berbagai urusan lain seperti mengirim uang ataupun membayar tagihan. Lucunya, sejak SD saya sudah mulai senang menulis surat ke sahabat pena yang saya dapat dari berbagai majalah. Saya suka sekali pengalaman menulis surat dengan tangan, membubuhkan perangko dan mengirim surat baik melalui kantor pos maupun kotak pos (eh ini kemana ya sekarang?). Saya ingat saya punya teman dari beberapa propinsi di Indonesia bahkan di luar negri, beberapa ada yang jadi sahabat pena saya sampai bertahun-tahun lamanya. Saya juga sempat mengkoleksi perangko lumayan banyak (btw, sampai sekarang saya belum kesampain bikin perangko prisma deh hehe). Pengalaman inilah yang menjadikan kantor pos punya tempat tertentu di hati saya.
Waktu saya kuliah di Inggris, saya suka sekali ke kantor pos untuk mengirim paket ataupun sekedar mengirim kartu pos untuk teman-teman saya di Indonesia atau di negara lain. Saya pun sampai saat ini mengkoleksi kartu pos dari berbagai tempat yang saya kunjungi di berbagai kota dan negara, ada juga yang saya kirim. Saya juga terkadang masih saling mengirim kartu pos dengan beberapa teman di luar negri dan sahabat saya disini. Rasanya saya girang banget kalau terima kartu pos, hehe… Ada perasaan tertentu yang timbul melihat gambar di kartu pos dan tulisan tangan. Rasanya personal banget.
Saya ingat saya pernah bekerja di daerah Pulo Gadung, dan dekat situ ada Kantor Pos Besar Jakarta Timur, entah kenapa saya senang beberapa kali kesana untuk minimal sekedar mengirim paket. Walaupun sudah jarang ke kantor pos, perasaan nostalgia saya dengan tempat ini tidak pernah hilang. Beberapa waktu lalu saya harus mengambil paket dari luar negri di Kantor Pos besar Bekasi, wah saya girang banget. Disana saya sibuk sapa bapak petugas Pos (sekalian nanya juga sih hehe), rasanya nostalgia itu kembali lagi. Saya kadang membayangkan dulu ketika teknologi belum seperti sekarang, orang-orang datang ke kantor pos untuk mengirim surat untuk orang-orang tersayang, hehe.. hopeless romantic saya keluar lagi nih!
Stasiun Kereta Api

Kalau di tanya mode transportasi mana yang saya paling suka, saya pasti memilih kereta api. Saya suka banget berada di kereta, dan saya juga suka stasiun kereta! Khususnya yang antar kota ya, hehe…
Nggak tau ya, menurut saya stasiun kereta api itu romantis, haha… Kebayang nggak sih dulu ini adalah tempat utama orang bertemu dan berpisah (sebelum rame bandara). Dan juga mungkin karena kereta api adalah salah satu mode transportasi tertua, jadi kerap desain stasiun kereta api itu sangat klasik. Di Jakarta sendiri contohnya di stasiun Jakarta Kota dan stasiun Jatinegara (sebelum di pugar) itu benar-benar desain zaman kolonial. Saya juga suka suasana stasiun Bandung, Jogjakarta, Purwokerto, Surabaya, dan berbagai kota lainnya. Ahh rasanya saya seperti di lempar ke zaman dulu dalam film hitam putih…
Ketika saya tinggal di Inggris, kerap saya berpegian dengan naik kereta menuju berbagai kota lain untuk mengunjungi teman maupun jalan-jalan. Tentu saja desain stasiun disana banyak yang masih dipertahankan klasik, seperti di stasiun Bristol, Edinburgh, St. Pancreas London, York, Cardiff dan masih banyak lagi. Rasanya saya seperti di lempar ke zaman victorian atau medieval. Beberapa kali traveling di Eropa saya juga kerap menggunakan kereta api untuk pindah dari satu negara ke negara lain, dan melihat desain arsitektur yang berbeda di setiap negara itu juga adalah pengalaman menarik tersendiri.
Saking seringnya saya berpegian naik kereta, saya juga merasa nyaman di stasiun kereta. Saya tidak keberatan menunggu lama sambil melihat sekitar, membaca buku ataupun sekedar berjalan-jalan. Saya pernah tertahan delay kereta di stasiun Cirebon 4 jam lebih sendirian di malam hari, lucunya saya anteng aja tuh malah sangat menikmati waktu saya disana menungu di ruang tunggu penumpang yang bergaya klasik hehe…
Kampus atau sekolah

Saya suka banget dengan susana kampus atau sekolahan. Mungkin karena passion saya memang mengajar ya, hehe.. Kampus atau sekolahan punya tempat khusus di hati saya. Makanya juga, saya senang banget sekarang punya kesempatan mengajar di kampus. Saya suka sekali dengan keramaian mahasiswa, ruang-ruang kelas, perpustakaan, dan ruang publiknya. Saya suka semangat-nya, membayangkan bahwa ini adalah tempat menimba ilmu, tempat sebuah pergerakan untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik.
Salah satu tempat yang saya sukai kunjungi juga ketika traveling adalah kampus. Kalau soal arsitektur, yah negara-negara di Eropa mungkin emang juara, beberapa kampus literary ruang kuliahnya di kastil, sebut saja Univesitas Cambridge, Oxford, Edinburgh, Glasgow..dan masih banyak lagi. Salah satu yang saya paling ingat juga adalah ketika saya ke Austria, menyempatkan diri mengunjungi Universität Wien, gara-gara pernah nonton film Indonesia bersetting di sana.haha.. It wasn’t dissapointing.
Jadi ingat waktu saya kuliah di Inggris, aduhh itu adalah mimpi jadi kenyataan, bisa duduk-duduk di taman kampus sambil makan buah atau baca buku. Terus saya jadi ingat malam-malam bergadang di perpustakaan untuk mengerjakan tugas. Tapi..di Indonesia juga kampus-kampusnya nya gak kalah cantik kok. Saya bersyukur pernah kuliah di UI dimana saya seperti kuliah di tengah hutan, ruang hijaunya luas, belum lagi danau-danaunya. Apalagi pada masa itu bangunannya belum sebanyak sekarang. hehe..
Demikian catatan ringan tentang “tempat”, dari kacamata saya yang hopeless romantic ini haha. Rumah sakit mungkin tidak romantis, tapi tempat ini punya sejuta kenangan buat saya dan keluarga.
See you another time!
Much love,
Inuk ☕
*Photos from Pexels
Leave a comment