Judulnya berat ya.. hehe. Tapi rasanya topik ini tidak akan pernah ketinggalan zaman. Letting go, sebuah frase yang sederhana, tapi dalam kenyataannya tidak mudah dilakukan. Saya pribadi merasa kesulitan untuk sampai ke sebuah tempat dimana saya bisa berkata “I finally have let go”. Dalam perjalanan saya, yang paling berat adalah ekspektasi, mimpi dan visi dalam hubungan. Jadi.. mungkin pembahasannya akan lebih ke hubungan ya. hehe…
Beberapa waktu yang lalu saya mengalami hal ini, dan saya banyak belajar dari pengalaman ini. Mungkin ini salah satu pelajaran terbesar dalam hidup saya.
Butuh waktu yang cukup lama untuk memproses ini semua sebelum akhinya saya bisa sharing disini, saya harus benar-benar yakin bahwa pengalaman tersebut sudah waktunya untuk dibagi dan bisa menjadi manfaat juga khususnya untuk yang membutuhkan.
Bagi saya, letting go adalah sebuah perjuangan
Tidak mudah rasanya untuk melepaskan semua ekspektasi dan mimpi-mimpi saya dengan seseorang khususnya ketika ketika hubungan tersebut berakhir. Kenyataan, semua harus di lepaskan.. Terlalu berat rasanya untuk badan dan pikiran kita. Berbagai cara rasanya sudah dilakukan, namun rasanya sulit sekali untuk melepaskan, kenapa?
Kita pikir kalau kita melepaskan harapan-harapan tersebut, kita akan jatuh kepada kesedihan yang lebih mendalam. Kita sadar bahwa itu tidak sehat, namun kita masih terus bergantung kepada impian tersebut karena kita tidak sanggup melepaskan “ide” bahwa impian kita tidak akan pernah jadi kenyataan.
It’s the loss of the fantasy that hurts us the most.
Dari sudut pandang energi, kata salah satu guru saya, ketika kita masih merindukan orang tesebut, berarti kita masih terkoneksi dengan orang tersebut walaupun secara fisik sudah tidak bersama. Walaupun kedengerannya indah tetapi hal ini yang membuat proses recovery menjadi lebih lambat dan menyakitkan.
Hal pertama yang harus di lakukan adalah menyadari hal yang sedang terjadi dalam diri kita, dan menerima apa adanya. Selanjutnya beberapa hal dibawah rasanya cukup membantu dalam proses recovery atau penyembuhan.

How to let go
Selain dari pengalaman pribadi, beberapa tips saya dapatkan juga dari membaca buku “How to fix a broken heart” oleh Bapak Guy Finch, dan juga dari energy work yang saya pelajari dari Bapak Jeffrey Allen, saya coba rangkum dengan mudah ya…
1) Be in the present time, instead of the past or alternate future.
Sebisa mungkin tempatkan kesadaran pada masa ini, bukan pada masa lalu atau skenario masa depan.
Cara yang paling simpel, begitu kita terbawa pikiran-pikiran, tarik napas yang panjang, dan lihat dan rasakan yang ada sekeliling kita. Atau kalau memejamkan mata, bayangkan kesadaran kita ada di belakang mata kita dan bayangkan kembali menjejak ke bumi.
2) Be aware of the reminders.
Jauhkan diri kita dari benda fisik yang mengingatkan kita pada kenangan akan pengalaman tersebut. Kalau terlalu sayang untuk membuangnya, mungkin bisa kita donasikan saja untuk yang membutuhkan.
Ini saran yang sederhana, tapi menurut saya dampaknya bisa sangat besar.
3) Acknowledge the emptiness and fill it in with our energy.
Menyadari “kekosongan” yang terjadi dalam hidup kita, dan mengisinya dengan hal-hal positif. Misalnya, menggunakan waktu yang tadinya dibagi bersama dengan memulai hobi baru yang belum kesampaian.
Tujuannya bukan menghindari perasaan sedih, tapi lebih ke arah memberikan napas dalam kehidupan kita kembali, dan kembali menjadi diri kita sendiri.
4) Extend compassion to ourselves.
Bersikap lembutlah kepada diri sendiri. Dan tentu saja, membiarkan diri kita menangis dan berkabung juga adalah bagian proses melepaskan.
Berada dalam sebuah hubungan adalah hal yang indah, dan memang tidak mudah untuk melepaskan. And, that’s ok ❤️
5) Release the energy chord.
Kalau pernah belajar tentang energy chord, ini waktu yang tepat untuk mempraktekan kembali. Bayangkan diri kita melepaskan energy chord kita yang masih terkait dengan orang tersebut, bisa juga dalam meditasi atau dengan sebuah intention atau niat baik yang dalam.
Buat saya pribadi, sebuah cara yang simpel ini pengaruhnya besar sekali! Ketika saya melakukannya dengan deep intention melepaskan energy chord, dihari yang sama saya merasakan perubahannya dalam diri saya. Perbedaannya seperti siang dan malam.
6) Pray for the highest good
Berdoa untuk yang terbaik. Tidak lupa tentu saja memohon pertolongan kepada Tuhan Yang Maha Pengasih juga adalah bagian penting dari proses ini.
Sebuah proses yang bagi saya sendiri sering terlewatkan, namun saya belajar untuk selalu kembali kepada-Nya.
7) Lean in to loved ones
Jika memungkinkan, tidak ada salahnya menyandarkan diri kepada sahabat atau keluarga terdekat yang akan selalu mendukung kita dalam keadaan apapun. Dalam perjalanan ini saya menemukan support system yang luar biasa, dan saya tidak bisa mengungkapkan betapa saya berterima kasih kepada mereka.
They are really my soul-tribe in this healing journey and I couldn’t feel more grateful to have them in my life. Well, nanti saya ceritakan lengkapnya di tulisan berikutnya ya hehe..
Living in faith

Saya belajar banyak dari pengalaman ini dan juga setiap jiwa yang menyertainya. Saya bersyukur bahwa saya bisa mengalami ini dan akhirnya tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang lebih baik.
Saya bersyukur atas pelajaran berharga yang saya dapatkan, sampai pada akhirnya proses recovery saya juga menjadi tidak terlalu lama dibandingkan sebelum-sebelumnya. Saya bersyukur pengalaman-pengalaman inilah yang membawa saya ke titik ini, di waktu ini: menulis dan berbagi.
Pada saat akhirnya saya bisa let go atau melepaskan, rasanya badan saya sangat ringan. Rasanya saya terbang bebas. Saya pikir saya adalah orang yang ceria dan tanpa beban, saya tidak sadar bahwa ada sisi diri saya yang jauh lebih ringan dan bahagia. Dan ketika saya mencapai hal tesebut, wahhh…. kok bisa gini ya? hehe…
Saya tidak pernah merasa lebih baik! Saya merasa jauh lebih positif dan merangkul masa sekarang (dan masa depan) dengan sebuah keyakinan bahwa semua yang terjadi dalam hidup adalah untuk kebaikan semua. For the highest good.
I am deeply grateful and thankful for the experiences, and for those who let me experience this.
Saya juga kerap mendoakan dan mengirimkan love and light untuk mereka (bingung kalo pake bahasa Indonesia, jadi garing hehe..). Saya tidak punya agenda lagi dalam berdoa, tidak untuk berharap kembali atau sekedar membuat perasaan saya lebih baik, yang saya miliki adalah sebuah ketulusan dan rasa kasih yang sangat besar.
Saya tidak lagi merasa sedih lagi, yang ada hanya sebuah rasa terima kasih dan syukur. Mungkin ini yang dinamakan unconditional love? (Ah, ini untuk pembahasan yang lain lagi lah, haha..)
Sebagai tambahan, saya pikir tidak hanya soal hubungan, dalam hidup banyak hal juga kita sering dihadapkan dalam sebuah pilihan untuk melepaskan. Kadang kita stuck kepada sebuah ide kebahagiaan ataupun tujuan dalam hal pencapaian diri, pekerjaan, keluarga, hubungan dan lainnya.
Bagaimanapun, percayalah kepada prosesnya. This or something better. Kata orang tua, semua pasti ada hikmahnya. Yang penting kita selalu terbuka dan mau belajar.
Anyway....woah, berat ya, hehe… Baiklah, kalau gitu jangan diperpanjang lagi.
I hope this post serves you. ❤️
With love, light and laughter
Inuk ☕
*Update September 2022:
Artikel blog ini yang merupakan refleksi dalam perjalanan saya ke dalam diri untuk belajar menerima kenyataan dan melepaskan adalah salah satu inspirasi utama saya menulis buku berjudul “I Am Worthy, Menerima Diri Sepenuhnya Tanpa Tapi” yang baru saja terbit. Kalau kamu ingin lebih jauh belajar mengenal dan memahami diri kamu serta memulai perjalanan indah Self-love journey ini, silakan cek info lengkap mengenai buku saya disini ya.
*Photos from Pexels

Leave a reply to Gisma Cancel reply