A Self-love journey
Saya tidak menyangka akan menulis tentang topik “self-love” alias mencintai diri sendiri. Namun pengalaman saya belum lama ini membuat saya merasa sangat penting untuk berbagi mengenai topik ini. Bahkan, saat ini saya sangat merasa terpanggil untuk menyebarkan pesan ini ke lebih banyak jiwa di dunia.
I also found my voice in the process..
Siap-siap, sepertinya ini akan jadi tulisan yang panjang.. hehe..
Kalau sudah pernah membaca tulisan-tulisan saya, mungkin sedikit melihat bahwa tema besar dalam tulisan tersebut adalah perjalanan diri dalam personal and spiritual growth. Beberapa tahun belakangan, khususnya dalam pandemik ini saya menemukan banyak hal mengenai diri sendiri, dan mungkin puncaknya adalah saya menemukan cinta untuk diri saya sendiri dengan segala kelebihan dan kekurangannya. (cie..)
For the first time in my life, I proudly say, I love myself unconditionally.
Percaya atau tidak, saya baru berani bilang ini kira-kira sebulan yang lalu. Saya coba ceritakan disini mengenai perjalanannya ya..
The beginning of a journey
Bagi saya, perjalanan mencintai diri sendiri adalah sebuah perjalanan panjang, bukan sebuah tujuan. Perjalanan ini saya yakin akan terus saya tapaki sampai akhir hayat. Ternyata tidak mudah untuk mencintai diri sendiri. Mungkin kita dengan mudahnya bisa menyukai atau mencintai diri kita sendiri ketika kita mengingat semua hal “keren” yang kita lakukan atau miliki dalam hidup, misalnya seperti prestasi, pencapaian karir, materi yang dimiliki, tempat-tempat indah indah yang kita datangi, keluarga dan banyak hal lainnya.
Namun pertanyaan yang lebih penting adalah, bisakah kita mencintai diri kita sendiri ketika sedang sedih atau jatuh? Bisakah kita mencintai diri kita sendiri dengan segala kekurangan yang dimiliki saat ini? Bisakah kita mencintai diri sendiri dengan masa lalu yang tidak kita banggakan?
Untuk saya pribadi, ternyata saya baru sadar bahwa saya tidak menyukai diri saya ketika saya mengingat semua kekurangan saat ini ataupun berbagai peristiwa dalam masa lalu saya.
It all started with narratives..

Hampir sebagian besar hidup saya, sepertinya saya selalu diingatkan bahwa sebagai wanita saya tidak komplit kalau belum punya anak ataupun belum menikah. Menurut saya tidak ada yang salah dengan menikah dan berkeluarga, saya pribadi masih ingin kok untuk berkeluarga suatu saat nanti. Namun, ketika narasi tersebut masuk terlalu dalam ke diri, ternyata ini menimbulkan sebuah insecurity dan kesedihan yang mendalam.
Dalam lubuk hati saya terdalam, saya merasa bahwa tidak akan benar-benar bahagia sampai saya menemukan seseorang mendampingi saya, bahwa saya akan terus membuat sedih orang tua saya kalau saya belum berkeluarga, dan bahwa “tugas” saya sebagai wanita belum selesai. Dalam pergaulan sosial pun, dalam hati saya sering merasa rendah diri dan malu, serta membandingkan diri saya dengan orang lain.
Living in fears..
Tenyata narasi diri ini menimbulkan banyak ketakutan dalam diri saya. I fear of loneliness, I fear or rejection, I fear of being left out, I fear of spending the rest of my life alone… Dalam mengarungi hidup, seringkali saya dihantui oleh berbagai ketakutan. Saya takut kesendirian, penolakan, ditinggalkan, dan yang paling saya takuti, saya takut akan menghabiskan sisa hidup saya sendiri. Perasaan ini sungguh tidak enak.
Saya rasa dalam hidup, adalah wajar kita memiliki ketakutan-ketakutan, karena terkadang ini yang mendorong kita untuk berusaha lebih baik lagi. Namun kalau ini mempengaruhi berbagai keputusan dan pilihan dalam hidup kita, yang ada kita tidak mengambil pilihan terbaik untuk kehidupan yang kita jalani ini..
I lost myself in the process..
Dalam perjalanannya, ketakutan saya ini pada akhirnya membuat saya kehilangan diri saya sendiri. Saya merasa tidak lengkap kalau tidak punya pasangan, perasaan sedih berkepanjangan pun selalu mengikuti. Saya pun beberapa kali terjatuh dalam hubungan yang tidak sehat, dimana saya bertahan hanya karena saya tidak ingin sendirian lagi.
Saya juga terjatuh dalam perasaan merasa tidak bernilai atau unworthy, dimana saya merasa tidak layak mendapatkan cinta yang indah ataupun pasangan hidup yang baik.
Becoming a glass full of love
Kata Dalai Lama, kamu tidak akan bisa membuat orang bahagia kalau kamu tidak bahagia. Kutipan ini saya rasa sangat tepat dalam konteks mencintai diri sendiri. Layaknya seperti gelas yang belum penuh, dalam perjalanan ini saya menyadari bahwa saya sibuk mencari kebahagiaan dari dunia luar, bukan dari dalam diri sendiri.

Saya sibuk mencari pasangan ataupun mencari perhatian orang lain, berusaha “terlihat baik” supaya orang lain juga memperlakukan saya dengan baik. Saya berusaha memenuhi gelas saya dari pasangan ataupun orang lain. Dan pada saat diperlakukan tidak baik, saya jatuh ke dalam lubang kesedihan yang mendalam.
Saya sibuk “memberi” orang lain sampai akhirnya saya kehausan sendiri. Saya memberi cinta untuk orang lain bukan dari gelas yang penuh, namun dari gelas yang kurang, sehingga pada akhirnya saya seringkali merasa kosong.
Mencintai diri sendiri sejatinya adalah memenuhi gelas kita, yaitu diri kita sendiri, dengan rasa kasih sayang yang besar. With love and compassion. Bersikap lembut terhadap diri sendiri, tidak menghakimi diri pada saat melakukan kesalahan, menerima pujian tanpa rasa sungkan, dan merayakan pencapaian diri tanpa rasa bersalah. Menerima dan memaafkan diri sendiri dengan segala kelebihan dan kekurangannya.
Mencintai diri sendiri adalah juga mencintai orang lain dari kelebihan air dalam gelas kita. Memenuhi diri kita dengan kasih terlebih dahulu dan memberikan kelebihannya untuk orang lain, karena dengan itu kita akan selalu merasa penuh. Kebahagiaan diri tidak lagi ditentukan oleh dunia luar, namun dari diri kita sendiri, yang pada akhirnya kita bisa membahagiakan orang yang kita sayangi lebih baik lagi.
Self-love atau mencintai diri sendiri itu tidak egois. Kita tetap bisa mengasihi orang lain dan mangasihi diri kita pada saat yang sama. Kalau ingat petunjuk emergency di pesawat, bukankan kita harus menyelamatkan diri kita sendiri dahulu dengan memasang masker oksigen ke diri kita terlebih dahulu sebelum menyelamatkan orang lain?
Terus, bagaimana caranya?
Pertanyaan ini yang paling sering muncul ketika saya berbicara mengenai self-love (teaser lagi untuk tulisan berikutnya, hehe..). Sebenarnya banyak hal yang bisa dilakukan, dan seperti saya bilang awal, ini adalah sebuah perjalanan, bukan tujuan. Setiap orang bisa menemukan jalannya sendiri dalam perjalanan menemukan self-love, dan menurut saya tidak ada yang lebih baik satu sama lain. Namun saya coba rangkum dengan 3 hal besar yang paling menginspirasi saya ya..
1) Mengisi diri dengan energi kita sendiri
Terkadang kita sibuk ikut-ikutan orang lain seperti teman atau pasangan, ataupun mengikuti trend. Namun seberapa sering kita bertanya diri sendiri hal-hal apa benar-benar ingin kita lakukan? Seberapa sering kita bilang “YES” kepada diri kita sendiri? Hal ini sangat sederhana, tapi rasanya menjadi diri sendiri bisa dimulai dari hal-hal kecil.

Untuk saya pribadi, hobi adalah salah satunya. Saya suka banget main tenis, belajar main piano dan berdansa, walaupun saya memulai ini cukup telat, beberapa bahkan baru saya mulai setelah menginjak usia 30 tahun! Saat ini saya lagi suka banget belajar tentang personal growth, hari-hari saya jadi lebih bersemangat dan menyenangkan!
Sebagai tambahan sedikit, menurut saya tips-tips yang banyak beredar di sosial media juga bagus loh. Biasanya judulnya self-care. Saya pribadi suka sekali mentraktir diri saya sendiri makan enak, nonton film kesayangan di bioskop, traveling ke tempat-tempat yang saya inginkan sendiri, dan belajar hal-hal baru yang saya sangat minati. Saya belajar memprioritaskan kebahagiaan diri saya sendiri.
2) Journaling – belajar mensyukuri hidup
Ini saya sudah sering banget ngomong ya. hehe.. Intinya ya untuk belajar bersyukur dalam setiap keadaan itu bisa kita lakukan dengan sedikit usaha. Memang rasanya mudah untuk bersyukur kalau hidup sedang diatas, namun apakah mudah bersyukur kalau kita sedang dibawah? Kadang iya kadang tidak.

Buat saya, dengan menulis jurnal mengenai hal-hal yang saya syukuri setiap harinya membuat saya benar-benar menghargai hidup, dalam senang dan susah. Dulu, hampir setiap malam saya menulis “Today, I’m grateful for…”, sampai akhirnya otak saya terbiasa bersyukur dan melihal hal-hal baik dalam hidup, bahkan dalam setiap kesulitan. Sampai saat ini saya masih menulis, walaupun tidak setiap hari.
3) Acceptance and forgiveness – menerima dan memaafkan diri
Nah ini sepertinya yang paling berat di antara semua. Dua poin diatas mungkin akan sangat memudahkan kita untuk menyukai diri kita yang lebih bahagia dan bersyukur. Namun, dalam hidup seringkali dihadapkan pada kenyataan yang berbeda. Disinilah saya belajar arti menerima dan memaafkan diri saya sendiri apa adanya.
Pertama, dengan mengakui bahwa saya ini punya banyak kekurangan dan tidak menutup-nutupinya, saya belajar untuk tidak resisten dengan perasaan saya yang sesungguhnya. It’s okay to feel not okay, disitu saya belajar menerima diri saya apa adanya bahkan ketika saya sedang tidak baik.

Kedua, memaafkan diri sendiri rasanya memang tidak mudah sama sekali. Di posting-an saya sebelum ini, saya menulis panjang mengenai proses memafkan diri sendiri. Singkatnya, salah satu yang sangat membantu saya adalah melakukan mirror work setiap hari selama dua bulan lamanya. Setiap pagi saya berbicara di depan kaca “I’m proud of myself for..7x, I forgive myself for…7x, I commit to myself…7x”. Tips yang kedengarannya simpel ini ternyata tidak mudah pada awalnya, saya bahkan bisa menangis. Namun pada akhirnya saya menemukan self-forgiveness dalam perjalanannya.
Self-love is a deep journey inwards, and it’s a beautiful one… 🙂
Okeh, wahh.. panjang ya. Hehe… Panjang karena seperti saya bilang di awal, perjalanan panjang mencintai diri sendiri adalah sebuah perjalanan seumur hidup. Saya sendiri menemukan perjalanan ini tidaklah mudah, namun saya juga berani bilang perjalanan ini juga tidak sesulit yang dibayangkan.
Dalam perjalanan hidup, pasti kita akan ditemukan oleh berbagai peristiwa baik senang dan susah. Berbicara tentang mencintai diri sendiri juga pasti akan ada naik turunnya. Namun demikian, saya belajar untuk melihat sesuatu dengan perspektif yang berbeda.
Saya belajar untuk merangkul ketakutan dan kelemahan saya. Saya belajar untuk menerima dan memaafkan diri sendiri. Saya belajar berdamai dengan diri sendiri. Dan hari ini saya berani bilang hal yang tidak pernah berani saya katakan di hadapan orang lain sebelumnya:
Nama saya Inuk, usia saya 35 tahun, saya belum menikah dan saya belum memiliki anak. Saya seringkali merasa mengecewakan orang tua saya. Namun saya menerima dan mencintai diri saya sendiri apa adanya.
I love myself unconditionally, with all my flaws and scars. I am worthy.
I have nothing to hide.
– Lisa Nichols
I have nothing to prove.
I have nothing to defend.
I have nothing to protect.
With love, light and laughter
Inuk ❤
Update Agustus 2022:
Artikel blog ini yang merupakan refleksi dalam perjalanan saya ke dalam diri untuk menemukan kedamaian dan kebahagiaan adalah inspirasi utama saya menulis buku berjudul “I am Worthy, Menerima Diri Sepenuhnya Tanpa Tapi” yang baru saja terbit. Kalau kamu ingin lebih jauh belajar mengenal dan memahami diri kamu serta memulai perjalanan indah Self-love journey ini, silakan cek info lengkap mengenai buku saya disini.
*images from Pexels

Leave a comment