Belajar Sabar

Beberapa hari lalu saya harus mengurus ulang BPJS Kesehatan saya di kantor cabang Bekasi karena suatu dan lain hal. Dan seperti sudah saya expect, antriannya cukup panjang, well, panjang banget malah. Saya datang pagi-pagi sekitar jam 9, untuk dapat nomor antrian (belum mengantri untuk di layani) saya harus menghabiskan waktu paling tidak setengah jam. A

h, tapi kok rasanya saya biasa aja ya, tidak ada perasaan yang mengganggu seperti kesal dan lain sebagainya. Buat saya, mengantri panjang bak ular kini bukan menjadi cobaan hidup luar biasa (ciye). Saya jadi pengen cerita sedikit soal sabar ini.

Sabar

Sebuah kata luhur yang seringkali kita dengar sejak kecil. Sebagai seorang Muslim, salah satu ayat Al-Quran yang paling saya ingat adalah

“Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar (QS AL-Baqarah: 153).”.

Ah, sungguh sebuah kalimat yang sangat menyejukkan. Sebagai anak yang juga berdarah Jawa, saya juga besar dengan di kenalkan mengenai pentingnya bersabar yang tercermin dari pribadi orang-orang Jawa pada umumnya. Ayah saya mungkin salah satu figur yang saya lihat paling sabar sedunia. Iya, sabar banget yah punya anak kayak saya hehe..

Tapi sejujurnya, saya tidak pernah mengerti,

Gimana sih caranya sabar?

Semakin dewasa, rasanya kesabaran saya makin banyak di uji. Beraktivitas di kota megapolitan seperti Jakarta ini apalagi, selalu in a rush. Maunya cepat tapi setiap hari harus bergelut dengan kemacetan jalanan, mengantri atau menunggu lama dalam berbagai kesempatan, ataupun harus berurusan dengan tetek bengek administrasi kependudukan (well, ini saya sih sebagai warga Bekasi, hehe).

Semakin lama saya hidup di dunia, rasanya ego saja juga ikut-ikut semakin besar, di tambah dengan permasalahan hidup yang rasanya semakin kompleks, jadinya semakin sulit untuk menjadi sabar. Saya jadi mudah marah ketika emosi saya tercetus dan terkadang akhirnya menangis.

Sebenarnya mungkin agama saya sudah mengajarkan ya, salah satu cara untuk belajar sabar adalah dengan sholat, well, sepertinya maksudnya sholat yang khusuk. Tapi akhirnya saja juga mencoba membuka wawasan saya dengan hal-hal baru. Sedikit-sedikit saya belajar mindfulness melalui meditasi sederhana. Saya menyempatkan diri berdiam setiap pagi walaupun hanya sepuluh menit. Saya jadi punya waktu untuk berkontemplasi juga, seperti self reminder.

Kenapa ya kita harus buru-buru? Apa yang di kejar?

Apa pengaruhnya sebegitu besarnya ketika hal tersebut 5, 10, 15, 30 menit lebih lama?

Apakah dengan mengutuk keadaan walau dalam hati akan merubah keadaan?

Apakah perasaan kita akan jadi lebih baik kalau marah-marah, apalagi sampai menyakiti orang lain?

I honestly don’t see the point.

Sedikit-sedikit, tanpa saya sadari sepertinya saya mulai punya jarak yang lebih baik dengan emosi saya. Seperti ada waktu yang ajaib tiba-tiba muncul untuk saya sedikit berpikir sebelum terjebak dalam emosi saya. Saya tidak lagi mudah terganggu dengan menunggu, mengantri, mendengar ocehan tidak ramah orang lain dalam berbagai situasi (well, most of the time sih kalo yang terakhir ini hehe). Dan ketika saya terjebak dalam antrian atau menunggu, saya juga bukannya yang super sibuk main hape untuk sekedar melewati waktu. Lebih sering saya diam saja, mengamati atau memperhatikan sekitar saya. Lumayan juga loh, melatih kepekaan dan kadang jadi menemukan hal-hal baru juga. Saya juga jadi berusaha lebih memahami orang lain di sekitar saya. Misalnya ni, kira-kira bagaimana ya perasaan Mbak yang di belakang counter itu yang setiap hari menghadapi berbagai jenis orang, dan mungkin sering kena marah juga? Rasanya bukan pekerjaan yang mudah.

Saya tidak tahu persis kapan, tapi Alhamdulillah rasanya saya jadi pribadi yang jauh lebih sabar daripada diri saya yang dulu. Saya bersyukur saya di besarkan dalam tradisi agama dan budaya yang luhur yang mengajarkan pentingnya bersabar,, walaupun sepertinya, saya harus cari jalan yang sedikit agak berbeda untuk memaknainya.

Emotions won’t just go away,

only if we could have a better healthy relationship with them. 

Semoga kita semua menjadi pribadi yang lebih sabar ya. 🙂

Amin..

Inuk ☕


Photo by Pexels

3 responses to “Belajar Sabar”

  1. mantap 🙂

    Like

  2. Pardon me but i really gotta ask, Does meditation really works? I know some people who does it regularly say that its amazing, enlightening and so on, but is it really THAT simple? Just 10 minutes every morning? 🙂

    Like

    1. Hi Yodi, it works for me yes 🙂 I think different modalities work for different people and everyone can choose which one suit them best. I found meditation benefits me a lot, but it is still a WORK. It works when you work it. For example, if you want to tone your muscles you have to go to the gym regularly, the same goes for meditation. We need to practice and do it regularly to reap the benefits. Hope this helps!

      Like

Leave a reply to Yodi Suryo Cancel reply

Stay connected and be the first to know!

Makes your inbox happy and read my fresh new article every week (plus, some personal stories inside)! 🍵

Processing…
Success! You're on the list.