Setahun belakangan, sejujurnya ada sesuatu yang mengganjal dan saya tidak pernah mengerti mengapa. Pagi hari ketika saya bangun tidur, seringkali saya mendapatkan diri saya berada dalam perasaan dan memori tentang masa lalu yang cukup menganggu. Awalnya saya pikir sudah terlepas dari rasa sedih atas peristiwa di masa lalu tersebut, ternyata sepertinya ada yang lain lagi.
Kok rasanya belum benar-benar bisa move on dari peristiwa ini?
Dalam sebuah sesi coaching dengan life coach saya (yes, saya yang jadi coachee-nya alias di coach, hehe..) saya menemukan sebuah insight yang sangat dalam mengenai hal ini. Melalui proses kontemplasi yang menyentuh hati, akhirnya saya menemukan bahwa ternyata ada emosi yang terkait dengan memori tersebut, yaitu “kemarahan”, sehingga memori akan kejadian tersebut tidak pernah benar-benar pergi.
Ternyata ada sebuah “kemarahan” dalam diri saya yang tidak pernah saya sadari dan juga tidak pernah saya proses. Saya baru menyadari ternyata diam-diam saya menyimpan sebuah kemarahan karena seseorang dari masa lalu saya tersebut TIDAK melakukan apa yang saya harapkan.
Ternyata, tanpa saya sadari hati saya masih belum menerima, bukan apa yang sosok tersebut lakukan, tapi apa yang tidak ia lakukan..
Air mata membasahi wajah saya…

Ya, saya putuskan untuk mengakui bahwa ada bagian diri saya yang marah, dan saya tidak perlu menolaknya. Ternyata seluruh bagian diri saya ingin dipeluk, tidak hanya yang rasanya “baik-baik” atau positif saja.
Ternyata memori dan emosi tersebut mengetuk diri saya setahun lebih untuk itu, untuk di akui dan kemudian di lepaskan. Bahwasannya saya adalah manusia biasa yang memiliki berbagai macam emosi seperti lainnya. Hati saya berucap..
“I forgive you for things that you did not do.”
Saya menyadari bahwa saya tidak lepas dari ekpektasi dan harapan dimana saya kaitkan hal tersebut kepada orang lain dari masa lalu saya.
Setelah menyadari hal ini, dan memaafkan, keesokan harinya sebuah kelegaan besar saya rasakan. Hati saya tidak lagi berat, napas saya ringan, dan rasanya beban besar terlepas dari pundak saya.
Loh kok gampang banget? Ternyata sederhana sekali. Namun memang, terkadang tetap membutuhkan waktu untuk berproses.
Jadi, jika kamu memiliki pengalaman yang mirip seperti saya,
Apa yang harus dilakukan?
1) Be curious
Be curious, tanyakan kepada diri “Peristiwa apa yang selalu aku ingat-ingat?”, “Apa perasaan yang menyelimuti memori akan peristiwa tersebut?”, “Dimana aku merasa tidak menerima kenyataan yang terjadi?”
Jawab pertanyaan tersebut dengan kejujuran yang terdalam. Jika memungkinkan, tuliskan semua yang kamu rasakan dalam jurnal kamu. Saya pribadi, memiliki seorang coach yang mendampingi saya dalam sesi coaching, sangat membantu dalam prosesnya sehingga saya bisa menemukan kejernihan dengan lebih cepat.
2) Accept and acknowledge
Accept and cknowledge your feelings, terima dan akui semua perasaan yang muncul. Tidak perlu takut salah, yang kita lakukan adalah membawa kesadaran kita ke seluruh bagian-bagian diri kita yang ingin dipeluk, bahkan yang tidak kita sukai.
Memang, dibutuhkan kebesaran hati untuk tahapa ini. Namun begitu kita meniatkan untuk kebaikan, sebenarnya tidak terlalu sulit juga..
Mungkin tidak mudah, tapi tidak apa-apa.. terus berikan kasih dan cinta yang besar untuk diri kita..

3) Release
Inilah proses healing yang sesungguhnya. Sebenarnya proses healing sudah terjadi ketika kita sudah mengakuinya, tidak sesulit yang dibayangkan dan bisa jadi sangat instan. Karena yang terjadi adalah, semua perasaan yang terjebak tidak akui tersebut sudah siap di lepaskan..
Disini kamu bisa berdoa, menulis jurnal, meditasi, ataupun lakukan apa saja yang menurut kamu paling cocok untuk melepaskan perasaan ini. Kadang sesimpel mandi air hangat ataupun berolahraga bisa membantu.
Biarkan air matamu jatuh jika itu yang kamu rasakan..
Pada akhirnya, saya doakan kamu mendapatkan kedamaian yang lebih lagi dalam diri kamu. Dan semoga kita semua bisa belajar untuk menjalani kehidupan kita dengan penuh kedamaian. Amin..
With so much love,
Inuk ❤
*photo by Pexels.com

Leave a reply to Puspadewi Cancel reply