Berteman dengan ketakutan 

Saya telah memiliki ide ini di pikiran saya sejak lama – bahkan Project Maven sudah ada di website saya selama dua tahun, diberi label “coming soon”!

Beberapa minggu yang lalu, intuisi saya mengatakan bahwa sekarang adalah waktu yang tepat untuk meluncurkannya. Rasanya ini adalah momentum yang tepat. Saya mulai kembali mengerjakan program ini, mempersiapkan semua detailnya. Tepat ketika saya pikir saya siap untuk launch, ketakutan saya muncul… 😨

Bagaimana jika saya bukan orang yang tepat untuk melakukan ini…
Bagaimana jika tidak ada yang mendaftar untuk program ini…
Bagaimana jika saya tidak dapat memberikan manfaat yang besar…

Dan begitu banyak “bagaimana jika”…

Setelah beberapa saat, akhirnya saya menangkap diri saya berpikir, “Oh, itu hanya ketakutan saya yang berbicara.” . Malah sebenarnya bukan berarti pertanda buruk juga; artinya saya sangat peduli dengan program ini, dan sebenarnya, itu hanya mekanisme otak saya untuk survive. 😌

Akhirnya saya berteman dengan ketakutan saya dan meluncurkan Project Maven. 🚀

Ini hanya satu cerita, dan saya percaya ini bukan hanya cerita saya. Bisa jadi ini cerita kamu juga…

Jadi, izinkan saya bertanya kepada kamu, berapa kali kita menahan diri karena ketakutan kita? Berapa kali kita merasa, “Saya tidak cukup baik”—yang adalah ketakutan yang paling umum?

Saya ingin bilang ke kamu, tidak apa-apa, it’s OKAY.

Kita ini manusia, dan kita didesain memiliki ketakutan sebenarnya untuk bertahan hidup. Yang penting adalah tidak membiarkan ketakutan mengendalikan hidup kita. 😉

Nah, langkah-langkah mudah ini mungkin membantu kamu:

1) Acknowledge your fears. Beri ruang bagi mereka untuk ada, bawa ke kesadaran kamu. Buat daftar ketakutan kamu jika memungkinkan. Nanti kamu akan menyadari bahwa mereka sebenarya cuma hidup di pikiran kamu…

2) Befriend your fears. Bersikaplah penuh kasih sayang kepada diri sendiri; tidak apa-apa untuk memiliki ketakutan. Anggap mereka sebagai teman perjalanan kamu, yang menunjukkan potensi bahaya (bahkan jika itu tidak nyata).

3) Make a decision. Tanyakan pada diri kamu, “Apa yang akan saya lakukan jika saya tidak memiliki ketakutan?” atau “Bagaimana jika saya bisa menjeda ketakutan ini selama lima menit? Apa yang akan saya lakukan?”

My wish for you that you take the driver’s seat and live your life courageously.

Remember, you are meant to thrive, not just survive.

And if you ever need my support, I’m here for you.

Have a fear-friending week! ❤️

With love,
Inuk


2 responses to “Berteman dengan ketakutan ”

  1. Rasa takut pada kita sebagai manusia itu adalah normal dan takut itu juga di perlukan supaya kita bisa berhati-hati dan tidak terburu buru dalam mengambil keputusan.

    Like

    1. Betul sekali 🙂

      Like

Leave a reply to Tri Nuraini Cancel reply

Stay connected and be the first to know!

Makes your inbox happy and read my fresh new article every week (plus, some personal stories inside)! 🍵

Processing…
Success! You're on the list.