Minggu lalu saya ada sesi konsultasi coaching. Buat saya sesi tersebut sangat baik, saya jadi paham bisnis dan tujuan pribadi orang tersebut. Rasanya bahagia bisa memberikan yang terbaik yang saya bisa. Di akhir sesi saya tanya dia, “Apakah sesi ini bermanfaat untuk kamu?”, dia bilang, “Jujur, tidak..”
Apa…
Di luar saya mencoba berusaha tetap profesional, namun jujur, rasanya hati saya hancur di dalam. Saya pikir saya sudah melayani dengan sebaik-baiknya, namun ternyata bisa jadi tidak. Ego saya terluka.. Rasanya sedih sekali, seperti tidak kompeten dan saya jadi mempertanyakan diri saya, apa yang salah dari diri saya.. 🥲
Singkat kata, akhirnya saya memproses hal ni, dan jadi riset sedikit. Ternyata namanya “negativity bias” atau “bias negatif”, dan ini sangat umum terjadi.
Jadi apa itu negativity bias, atau bias negatif?

Bias negatif merupakan fenomena psikologis dimana manusia cenderung lebih memperhatikan, mengingat, dan terpengaruh oleh pengalaman atau informasi negatif dibandingkan dengan pengalaman atau informasi positif.
Dengan kata lain, kita lebih sensitif terhadap peristiwa, emosi, atau informasi negatif dibandingkan terhadap peristiwa, emosi, atau informasi positif atau netral.
Di masa lalu, ini adalah mekanisme bertahan hidup ketika kita menghadapi potensi ancaman dan bahaya. Untuk melindungi diri kita sendiri, kita lebih memperhatikan pengalaman negatif untuk a belajar bagaimana menjaga diri kita tetap aman di masa depan.
Kebayang nggak bagaimana kehidupan ketika kita tinggal di dalam gua, atau ketika kita menjadi pemburu dan pengumpul?
Jadi apa yang harus dilakukan?
Berikut beberapa langkah sederhana yang saya ambil untuk memproses perasaan negatif ini:
1) Ciptakan jarak
Ciptakan ruang antara dirimu dan pikiranmu. Meskipun ini mungkin tidak mudah, kamu selalu dapat meningkatkan kesadaran diri kamu. Bisa dengan merenung atau bermeditasi mengenai hal ini. Temukan ruang dalam pikiran kamu di mana kamu dapat mengamati pengalaman kamu dari atas, atau orang ketiga. 🧘🏽♀️
Namun, jika ini terlalu sulit, langkah selanjutnya mungkin sangat berguna untuk membantu kamu.
2) Bicarakan
Jika kamu adalah seseorang yang suka memproses pikiran saat berbicara seperti saya, kamu mungkin ingin membicarakannya. Saya mencari support, dan life coach saya membantu saya memproses pikiran negatif yang saya miliki sebelum menjadi terlalu jauh.
Alternatifnya, kamu selalu dapat berbicara dengan seseorang yang dipercaya dan dapat memberi kamu safe space, seperti sahabat atau pasangan. Orang-orang yang selalu menyayangi dan mendukung diri kita, apa pun yang terjadi.
3) Bersyukur
Bersyukur pasti menjadi obat untuk banyak hal. Kita sering lupa bahwa ada lebih banyak hal positif dalam hidup daripada satu pengalaman negatif.
Bagi saya, saya ternyata melupakan bahwa pada minggu yang sama, klien lain membagikan ulasan jujurnya tentang program group coaching yang saya jalankan bulan lalu. It’s so beautiful… Saya membaca ulang ini dan merasa terharu, menyadari betapa saya melupakan semua hal positif yang juga terjadi dalam hidup saya

4) Cinta dan kasih
Pada akhirnya, ini adalah tentang membawa lebih banyak cinta dan kasih sayang kepada diri kita sendiri. Kita hanyalah manusia biasa, dan terkadang tidak apa-apa untuk merasakan hal ini. Well, coach juga manusia kan ya. 😁
Sejatinya tidak ada kegagalan, hanya pelajaran.
Ini adalah pelajaran terbesar saya dari pengalaman ini. Selain itu, saya juga belajar bahwa saya perlu memperbaika cara saya memulai sesi coaching. Akhirnya saya menyadari bahwa hal tersebut terjadi karena saya lupa memberikan intro yang tepat tentang apa yang bisa diharapkan dari sebuah sesi coaching.
.
.
Jadi, apa yang kamu pelajari dari ‘bias negatif’ terakhir kamu?
My wish for you is that you always remember how good life is no matter what.
Life is beautiful indeed. ❤️✨

With love,
Tri
Ps. Are you ready to create the most extraordinary fulfilling life you love? Learn about my coaching program , or book your first coaching call here

Leave a comment